Home

Senin, 03 Oktober 2011

Twenty One (Not A Cinema)




Bu, sudah puluhan ribu hari atau mungkin ratusan ribu hari aku lalui tanpamu. Yah, sekarang aku genap dua puluh satu tahun. Hari ini. Perjalanan sebelum sampainya aku di angka ini terasa sangat berat. Apalagi harus aku lalui tanpamu. Sebenarnya banyak yang ingin aku bagi dengan ibu. Bahagiaku saat ini. Ingin merayakan hari jadiku denganmu. Pergi berbelanja. Makan siang bersama. Berpelukan. Bertawa bersama. Curhatku tentang seorang pria. Nasihat-nasihatmu.

Tapi sayang, itu semua tidak bisa aku lakukan. Ibu sudah pergi belasan tahun yang lalu. Karena Tuhan sangat sayang dengan ibu. Bahkan, aku tidak ingat seperti apa wajah ibu. Satu-satunya foto ibu yang tertinggal pun hilang bersamaan dengan dompetku. Saat itu aku mengutuk diriku. Betapa bodohnya sampai aku kehilangan dompet. Bukan masalah jumlah uang didalamnya. Tapi ada foto ibu didalam dompet itu. Ah, sudahlah. Yang perlu ibu tahu, aku selalu selalu selalu rindu dengan ibu.

Aku nyaris gila bu. Aku nyaris gila menghadapi semua tekanan ini. Batinku bergejolak hebat bu. Aku berpikir, mungkin ibu yang bisa menenangkannya. Dengan sebuah pelukan hangat. Aku mohon bu, tetap ada didalam hatiku sampai kapanpun. Karena hanya ibu yang bisa membuat aku tetap berpijak ditanah dan berpikir waras.

Aku sayang Ibu.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar