Aku semakin melengkungkan tubuhku. Semakin ku rengkuh erat sehelai selimut yang kita bagi berdua. Ya, aku dan kamu disini. Terjebak dalam hujan badai dikala musim dingin. Sesekali aku menatap wajahmu yang berusaha memejamkan mata. Napasmu seperti uap yang keluar dengan teratur. Aku sengaja memelukmu erat. Mungkin dengan begitu kita akan berbagi kehangatan. Bukan. Ini bukan kehangatan yang vulgar. Ini murni kehangatan antara aku dan ibu. Kami saling berbagi selimut saat dingin menyerang. Bagai dua anak kecil yang sedang dipeluk oleh nikmat Tuhan. Aku dan kamu hanya terdiam. Namun, terasa seperti sudah bercakap-cakap panjang lebar. Kesunyian ini tidak mematikan. Aku mendengar degup jantungnya. Aku berharap badai ini tidak akan berakhir. Karena aku menikmati saat-saat ini dengannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar