Home

Jumat, 14 Oktober 2011

Yang Terlewatkan

Tubuhku mengeluarkan keringat dengan dahsyatnya. Jari jemari membeku dingin. Hati berdegub kencang. Aku coba kuatkan hati untuk menghadapi ini. Hanya dua atau tiga jam saja kan? Aku pasti mampu. Hati menggebu-gebu namun langkahku semakin melambat. Benarkah ini? Atau aku batalkan saja. Sepertinya aku masih tidak siap. Dddrrrttt. Ponselku bergetar. Ku baca pesan itu, "kamu dimana? aku sudah di pintu utama." ku tarik napas dalam-dalam. Terlambat untuk mundur sekarang. Harusnya aku batalkan saja dari awal. Tapi tidak. Ku ayunkan langkah percaya diri.

Sosok itu sedang duduk. Dengan earphone yang menyangkut di telinganya. Dia melihatku dengan kening berkerut. Ya, sekarang penampilanku berubah. Aku bukan anak sekolah yang dia pacari dulu. Sekarang aku seorang wanita yang sedang menjalani proses pendewasaan diri. Namun, dirimu tidak ada yang berubah. Kau tetap dengan tubuh tambunmu. Dan mata itu. Mata yang selalu mengawasiku dikala kita saling bercakap-cakap. Aku menyadarinya tapi tidak terlalu aku hiraukan. Ada beberapa saat, tanpa sadar aku mengeluarkan egoku. Ya, aku masih temprament seperti dulu. Kau coba melakukan kontak fisik lembut. Entah menggandeng tanganku saat berjalan atau memeluk pinggangku. Namun, itu tidak tepat untuk saat ini. Karena aku sekarang sedang bercinta dengan diriku sendiri.

Akhirnya waktu tiga jam itu segera berlalu. Saat perjalanan pulang, hanya sunyi yang kami rasakan. Wajahnya menunjukkan ekspresi yang tidak bisa tertebak. Dia jalan membelakangiku. Aku melewatkan bus yang datang. Mungkin 3 atau 4 bus yang aku acuhkan. Menunggu kata-kata pamitan dari mulutmu. Tapi kau hanya diam. Sibuk dengan earphone-mu. Entah apakah kau benar-benar mendengarkannya atau hanya sebagai penghalang agar kita tidak berkomunikasi sama sekali. Ku putuskan saat bus ke 5 datang aku beranjak. Tanpa kata. Aku hanya mencoba tersenyum. Aku ingin ini pertemuan ini berakhir dengan baik. Bagaimana pun kita pernah mengalami petualangan hidup bersama.

Rabu, 12 Oktober 2011

#Day 13 #Rumah



Aku semakin melengkungkan tubuhku. Semakin ku rengkuh erat sehelai selimut yang kita bagi berdua. Ya, aku dan kamu disini. Terjebak dalam hujan badai dikala musim dingin. Sesekali aku menatap wajahmu yang berusaha memejamkan mata. Napasmu seperti uap yang keluar dengan teratur. Aku sengaja memelukmu erat. Mungkin dengan begitu kita akan berbagi kehangatan. Bukan. Ini bukan kehangatan yang vulgar. Ini murni kehangatan antara aku dan ibu. Kami saling berbagi selimut saat dingin menyerang. Bagai dua anak kecil yang sedang dipeluk oleh nikmat Tuhan. Aku dan kamu hanya terdiam. Namun, terasa seperti sudah bercakap-cakap panjang lebar. Kesunyian ini tidak mematikan. Aku mendengar degup jantungnya. Aku berharap badai ini tidak akan berakhir. Karena aku menikmati saat-saat ini dengannya.

Selasa, 11 Oktober 2011

#Day 12 #Mantan

Tema #12 #Mantan *pingsan*

*bangun lagi*..*kumpulin nyawa*..*kumpulin mental*
Ada yang tahu kenapa tema ini yang dibahas?

Hufft!!! Okeh demi permainan #15harimenulisdiblog ini, saya coba korek-korek lagi tentang "mantan" dari kotak memori saya.


Dia. Selalu ada di saat saya membutuhkan.
Dia. Selalu ada di saat saya bahagia.
Dia. Selalu ada di saat saya sedih bahkan menangis.
Dia. Selalu bisa merangkap menjadi sosok yang saya butuhkan.
Dia. Selalu menemani mimpi-mimpi indah saya.
Dia. Selalu menghidupkan semangat membara dalam jiwa saya.
Dia. Selalu menghembuskan kalimat-kalimat mujarabnya agar saya percaya pada kehidupan.
Dia. Selalu meyakinkan saya bahwa saya kuat, saya mampu.
Namun, semua itu sudah berlalu.
Sekarang, kami berjalan dijalur kami masing-masing.
Jalur yang masih samar.
Jalur yang tidak kami ketahui ujungnya.

Senin, 10 Oktober 2011

#Day 11 #Hujan

Bau itu sangat khas.
Bau tanah sebelum hujan.
Selalu menggugah ku untuk memejamkan mata.
Menghirupnya dalam-dalam.
Langit menghitam.
Namun, aku tidak beranjak dari tempatku berdiri.
Aku menunggu langit menumpahkan ribuan bahkan jutaan tetes airnya.
Mengguyurku sampai basah kuyup.
Menikmati setiap tetesnya yang jatuh ditubuh ini.
Sekali lagi.
Langit bertambah hitam dan sapuan angin semakin kencang menghembuskan udara dinginnya.
Aku tetap bertahan.
Tetapku pijakkan dengan kuat kakiku ditanah ini.
Sampai tetesan pertamanya jatuh ditubuh ini.

 

Huruf, Kata, Kalimat

Hampir setengah jam hanya menatap kosong layar komputer.
Tak keluar satu huruf, satu kata bahkan kalimat.
Hanya layar berwarna putih yang dengan siap menunggu kata pertamanya.
Aku mengetuk-ngetukkan pena ke meja dengan nada tidak sabar.
Oh, aku butuh imajinasi hari ini.
Tak perlu berlebihan.
Cukup beri aku satu kata.
Satu kata yang mungkin bisa aku sulap menjadi sebuah kalimat yang indah.
Kalimat yang tentunya akan berisikan tentang dirimu.
Ya, masih tetap dirimu yang mendominasi kata bahkan kalimat yang aku tuliskan.
Susah payah aku mengenyam pendidikan dari tingkat dasar sampai tingkat tinggi.
Huruf yang aku ciptakan, kata yang aku tuliskan, kalimat yang aku ucapkan semua terbentuk dari pesona mu.
Pernah berharap, aku tidak mau belajar menulis bahkan berbicara tentang dirimu.