Dengan segera warga setempat membawa ibu dan anak itu ke RS yang masih dibilangan Jakarta Pusat. Saat dilarikan ke RS, sang ibu masih tersadar. Selama dua hari beliau menjalani perawatan. Namun, nasib malang. Tiga hari sebelum perayaan idul fitri, sang ibu dipanggil ke pelukan yang Maha Kuasa, Maha Abadi. Sang anak belum mengerti arti kehilangan karena usianya yang dini. Dia hanya melihat sang ibu sudah terbujur kaku. Tanpa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dikemudian hari. Tanpa tahu bahwa dia akan kehilangan lentera hidup selamanya. Tanpa harus tahu perjuangan yang akan dia hadapi disaat dewasa kelak.
Sang anak hanya tahu dan diberitahu oleh orang dewasa disekitarnya, bahwa sang ibu sedang pergi kerumah Tuhan. Tanpa tahu kapan dia akan kembali. Tidak ada air mata yang tumpah. Tidak ada rasa kehilangan pada saat itu. Dia hanya tahu bahwa Tuhan lebih menyayangi ibunya. Kata orang, orang baik selalu disayang oleh Tuhan.
Sekarang, kehilangan itu baru terasa. Perjuangan yang harus dilalui tanpa dekapan sang ibu. Sangat berat. Rindu. Saat-saat beradu argumen tentang yang benar dan yang salah. Rindu. Saling menjaga dikala sakit. Rindu. Mencium bau harum ibu. Rindu. Tatapan hangat dari ibu. Rindu itu semakin membuncah bu. Memaksa ingin dikeluarkan. Entah bagaimana caranya. Dia berontak. Meronta-ronta dalam jiwa. Rasanya sangat menyesakkan. Kehilanganmu ternyata sangat berdampak besar dalam hidupku selama ini.
Tapi semoga ibu baik-baik disana. Aku Sayang Ibu. Sampai kapanpun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar