Hari ini saya menbaca sebuah catatan elektrik seorang teman lama. Teman yang saya kenal dimasa kecil saya. Sedikit banyak, saya mengetahui kehidupannya. Dia tinggal bersama sang Ibu dan kakak laki-lakinya. Mereka hanya tinggal bertiga disebuah rumah sederhana. Saya tidak tahu tentang Ayahnya. Saya tidak pernah bertanya kemana Ayahnya atau tinggal dimana sekarang beliau. Saya takut membuka luka lamanya. Mungkin hanya dia yang tahu.
Tapi saya selalu kagum dengan kebersamaan Ibu dan anak ini. Mereka selalu mengungkapkan kasih sayang dengan berbagai cara dan dimana saja. Dengan berpelukan atau bahkan dengan kata simpel 'Kangen'. Mereka tidak canggung saat mengungkapkannya. Bahkan terkadang saya iri. Namun, beberapa bulan yang lalu sang Ibu berpulang ke rumah Tuhan. Rumah yang abadi.
Saya ingin seperti dia yang dengan mudahnya mengungkapkan kasih sayang pada orang yang kita cinta tanpa rasa canggung atau malu. Salah satunya kepada Ibu. Saya hanya merasakan tiga tahun bersama Ibu. Karena pada tahun 1993, Ibu berpulang kepelukan Tuhan. Mungkin saya juga lupa bagaimana wajah Ibu saya. Tapi saya tidak akan lupa dengan perjuangan Ibu demi saya dan adik saya. Bagaimana dia berusaha menghidupi kami dengan cara menjual baju. Dengan menggulung kertas kopi yang dihargai lima rupiah saat itu. Itu yang saya tahu dari tante saya. Masa-masa sulit karena Ayah meninggalkan Ibu dalam kondisi hamil 3 bulan saat mengandung adik saya. Dan Ayah datang saat Ibu sudah kaku. Betapa mirisnya kenyataan itu. Tetapi harus tetap ditelan paksa. Karena saya adalah bagian dari masa lalu itu. Saya pernah menganggap ini tidak adil. Karena dengan perginya Ibu. Saya sendiri.
Saya tidak tahu cara mendiskripsikan seorang Ibu. Karena waktu saya dengan Ibu terlalu singkat. Tapi yang saya dengar, Ibu adalah seorang pejuang yang kuat. Melindungi keluarga kecilnya dengan segala kemampuan yang dia miliki. Ibu siap jika harus jadi Ayah sekaligus untuk anak-anaknya. Peranan yang mungkin sulit dijalani oleh orang lain.
Ibu. Orang yang memeluk anaknya setiap menjelang tidur. Dengan membisikkan kata-kata mujarab saat anaknya takut gelap. Ibu bisa berkerja 24 jam untuk menjaga anaknya, layaknya apotik atau rumah sakit. Dan hebatnya tanpa mengharapkan bayaran sedikitpun. Ibu bisa menahan segala keinginannya, agar anaknya bisa bersekolah sampai tingkat yang paling tinggi. Ibu tidak pernah lelah menjawab pertanyaan anaknya, dikala anak ingin tahu segala hal. Ibu tidak pernah mengeluh.
Sangat luar biasa peran Ibu dalam kehidupan. Walaupun waktu saya dan Ibu terlalu singkat. Namun, saya bangga lahir dari rahimnya. Dan menjadi anaknya.
Tuhan, jaga Ibu saya. Berikan dia tempat yang mulia disisi-Mu. Tolong sampaikan padanya, bahwa saya sayang dan rindu padanya selalu. Dalam hati ini, hanya ada nama Ibu.
Love you mom. Big hugs and kisses for you. See you next time.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar